Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 April 2011

MENUMBUHKAN BUDAYA KREATIF

Oleh : Romald Kahardi, S. Fil.

Dinamika kehidupan yang semakin kompleks dewasa ini menuntut kita untuk kreatif dalam menjalani hidup. Sikap hidup yang kreatif itu tidak saja berlaku dalam lingkup kehidupan bermasyarakat; akan tetapi juga berlaku dalam dunia pendidikan. Pendidikan harus mampu mencetak manusia-manusia yang kreatif dan mandiri. Persaingan gelobal dengan aneka macam perkembangannya ”memaksa” kita untuk terampil dalam mengisi dan memanfaatkan peluang untuk berkreasi. Inilah yang menjadi tantagan yang harus dijawab sekaligus dihadapi oleh setiap generasi, khususnya generasi muda sebagai penerus dan pelaku sejarah peradaban bangsa. Pertanyaannya, ”bagaimana caranya agar Kreatif itu tumbuh dan berkembang dalam diri generasi muda sehingga ia menjadi ”budaya” dan apa saja tantangan dan bagaimana cara menumbuhkan budaya kreatif itu adalah sebagian kecil dari seribu satu pertanyaan yang akan dibedah dalam tulisan ini.

Generasi yang kreatif adalah generasi yang mampu menemukan dan menghasilkan sesuatu yang baru dan berguna bagi diri dan orang lain. Kreativitas itu tumbuh dan bisa menjadi budaya apabila kita tidak pantang menyerah, optimis dan berpikir Positip tentang diri dan orang lain. Berpikir Positip menjadi pemicu orang untuk kreatif. Tidak cepat puas dan selalu ingin mencoba menghasilkan sesuatu yang baru. Inilah tantangan bagi dunia dan pelaku pendidikan kita dewasa ini.

Sekolah Charitas sebagai suatu lembaga yang bergerak di bidang pendidikan juga mempunyai andil untuk melahirkan generasi kreatif. Karenanya, Sekolah Charitas dengan take line Moralitas, Kepemimpinan, Moralitas harus mampu melahirkan generasiyang kreatif. Inilah harapan dan yang perlu diwujudkan oleh segenap pelaku pendidikan.

Kreativitas itu ada dalam diri setiap orang. Walaupun demikian kadang orang kurang sadar bahwa dirinya adalah pribadi yang kreatif. Kreatifitas membuat dunia ini berubah. Kreativitas membuat hidup manusia (Orang) berkembang dan bertumbuh kearah yang lebih baik. Namun apakah tiap orang sadar kalau dirinya adalah pribadi yang kreatif?

Terkadang orang menganggap bahwa kreativitas itu muncul pada diri orang tertentu saja. Kreativitas diidentikan dengan penemuan-penemuan besar atau merujuk pada hasil karya seniman besar, seperti : Karya Van Gogh, Musik Mozart atau Shakespere atau pada siswa-siswi yang pintar saja atau pada para pemimpin besar. Walaupun Para maestro ini menunjukkan kreativiatas dan bakat yang luar biasa, tidak berarti kita kurang kreatif. Sebenarnya setiap kita adalah pribadi yang kreatif, tetapi mungkin kita kurang mengembangkan dan menghidupinya.

Adanya dorongan untuk bertindak kreatif akan membantu seseorang untuk mampu memikirkan sesuatu yang baru sebagai cara atau jalan yang lebih efektif dalam mencapai tujuan. Kreativitas merupakan suatu bentuk produktivitas dari daya pikir. Dalam hal ini, alam pikiran kita dituntut untuk mengolah otak sehingga mampu menghasilkan suatu yang baru atau mengkreasikan apa yang sudah ada. Kreativitas kadang muncul bersamaan dengan adanya suatu kebutuhan yang mendesak dalam kehidupan kita.

Kreativitas dapat tumbuh dalam pelbagai aspek kehidupan dengan dilatarbelakangi oleh berbagai macam tujuan. Orang menciptakan sesuatu atau menghasilkan sesuatu dengan tujuan tertentu. Sebagai pelaku pendidikan, baik sebagai guru atau siswa kreativitas perlu dibudayakan atau dihidupkan.
Kreativitas dan sikap kreatif harus bisa muncul dalam praksis penddikan. Sekolah dengan segala fasilitasnya harus mampu memberikan ruang bagi peserta didik untuk berkreasi dan mengembangkan potensi dirinya dalam berbagai bidang, seperti dalam berorganisasi (seperti dalam OSIS), dalam bereksperimen, dalam proses KBM atau menciptakan hal-hal baru sebagai buah dari daya pikir yang kreatif. Pemberian ruang kepada peserta didik untuk berkreasi memungkinkan terjadinya perubahan dan tumbuhnya kreativitas. Tidak hanya itu, faktor pendukung seperti, pendampingan dan motivasi dan keinginan untuk maju adalah kunci menuju tumbuhnya budaya kreatif.

Budaya Kreatif itu muncul dari kebiasaan. ”Ala bisa karena biasa” demikian sebuah pepatah lama. Kreativitas sebenarnya adalah penerjemahan atau pengejawantahan diri kita kedalam bentuk yang nyata, semisal karya seni, kemampuan memimpin dan berkomunikasi secara baik. Orang yang berjuang untuk menggunakan dan memanfaatkan potensi dirinya adalah ciri orang yang kreatif. Abraham Maslow menyebutnya sebagai orang yang mengaktualisasi diri. Orang yang mengaktualisasi diri memiliki dorongan yang luar biasa dan hebat untuk menemukan pelbagai peluang untuk berkreasi. Selain itu Ciri orang kreatif menurut Jan Carlzon dalam ”Moment of Truth” adalah: orang yang memiliki keberanian, ekspresif dan intuitif. Pribadi yang kreatif cendrung mandiri, percaya diri, berani mengambil resiko, selalu ingin tahu dan selalu bereksperimen.

Patut di sadari bahwa setiap insane adalah pribadi yang kreatif dan terlahir dengan kemampuan “mencipta”. Memahami proses kreativitas dapat meningkatkan kemampuan kreatif kita. Sekolah Charitas dengan take line, Kepemimpinan, Moralitas dan Kreativitas harus mempu melahirkan generasi Yang berkarakter Kreatif. IN Omnibus Charitas!!!

Selasa, 27 Oktober 2009

Satu Nusa Satu bangsa Satu bahasa

By: Romald Kahardi

"Satu nusa satu bangsa satu bahasa kita, tanah air pasti jaya untuk selama-lamanya; Indonesia pusaka, Indonesia tercinta, Nusa bangsa dan bahasa kita bela bersama......" Demikian lirik lagu satu nusa satu bangsa karangan L. Mnik yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Kita menyanyikan lagu ini sejak kita duduk di bangku TK, SD, SMP, SMA dan seterusnya...... Hingga kini lagu itu sudah mendarah daging dalam diri kita. Walaupun demikian, pernahkah kita merefleksikan sejenak tentang makna dari penggalan lirik lagu karangan L. Manik ini?

Hari ini kita merayakan hari sumpah pemuda. Hari dimana kita memperingati perjuangan kawula muda tempoe dulue (28 oktober 1928) yang dengan gagah berani dan lantang memproklamirkan sumpah setia mereka kepada Bangsa, yaitu bangsa Indonesia yang memiliki keanekaragaman suku agama dan ras serta kebudayaan, yang saat itu masih dalam tekanan dan kungkungan penjajah; namun mereka kaum muda tampil dengan berani untuk bersumpah, ” SATU NUSA SATU BANGSA dan SATU BAHASA, yaitu INDONESIA.

Kini dalam situasi dan suasana yang berbeda di alam kemerdekaan kita merayakan dan memperingati moment bersejarah ini. Masihkah rasa kebangsaan dan keIndonesiaan kita melekat dihati segenap insan pertiwi negeri ini? Sebuah pertanyaan yang patut untuk direnungkan dan dimaknai.

Pemuda di seantero jagad raya ini memiliki dinamika yang khas. Kadar spiritualitasnya murni dan memancarkan energi pencerahan luar biasa. Ketika kebanyakan orang asyik dengan diri sendiri, mereka tampil di barisan terdepan dalam kesatuan aksi pembaruan yang cenderung radikal. Itulah yang terjadi saat Pemuda Indonesia bersumpah untuk (selamanya) satu bangsa, bahasa dan tanah air Indonesia.

Dalam konteks kekinian, ketika revolusi teknologi informasi telah melintas batas teritorial yang secara tradisional dinyatakan sebagai milik suatu bangsa dan kebanyakan warganya asyik dengan (kepentingan) diri sendiri (dan kroninya), ada satu pertanyaan yang perlu dimajukan. Masih relevankah memegang teguh Sumpah Pemuda sebagai titik tumpu pencerahan dan pembaruan sikap hidup bersatu dalam bangsa, bahasa dan tanah air Indonesia ?

Memajukan derajat kehidupan bangsa dapat dilakukan sesuai dengan kapasitas diri kita masing-masing. Karena setiap orang punya potensi yang dapat dikembangkan untuk mencapai kapasitas itu. Jika setiap anak bangsa memberikan satu langkah ke depan, bisa dibayangkan betapa lapang jalan yang dapat kita lalui bersama untuk mengatasi krisis multisdimensional saat ini. Menghargai keanekaragaman dalam kancah negara kesatuan indonesia adalah salah satu bentuk apresiasi dan pemaknanaan Sumpah pemuda dalam hal ”SATU NUSA SATU BANGSA.”

Lalu bagaimana dengan SATU BAHASA? Mengapresiasi bahasa Indonesia tidak harus diwujudkan dalam bentuk ekstrim semisal menolak pemakaian bahasa asing dan lokal sebagai media komunikasi verbal, bahasa pengantar dan sejenisnya. Atau juga denganb melakukan parade baca puisi dan berbalas pantun setiap hari. Penting dicatat bahwa memelihara kelenturan sikap dalam ber-Bahasa Indonesia justru akan menjadi faktor pengaya dalam kebhineka tunggal ika-annya. Tentu, perlu ada aturan baku sebagai acuan utama dalam mengupayakan pengayaan itu. Selain menjadi pengatar, Bahasa Indonesia sangat perlu dikembangkan sebagai bahasa ilmu pengetahuan. Ini adalah bukti penghargaan kita terhadap Bahasa Indonesia dalam menjiwai makna ”SATU BAHASA.”

Karena itu, peringatan hari SUMPAH PEMUDA hendaknya menjadi moment untuk merefleksikan kesadaran jati diri kita sebagai anak bangsa yang bertanah air satu, tanah air Indonesia, dan berbangsa satu bangsa Indonesia serta bangsa yang memiliki satu bahasa persatuan, yaitu: bahasa Indonesia. MERDEKA!

Minggu, 04 Oktober 2009

Dari Laskar Pelangi menuju Pelangi jiwa

By: Romald Kahardi


Laskar Pelangi. Ini adalah nama sebuah Film fenomenal yang menggenjot perhatian pencinta film dan penikmat film di tanah air. Banyak orang jatuh cinta pada Film ini. Tdak heran Pak SBY, Presiden Republik Indonesia meluangkan waktu khusus untuk menonton Laskar Pelangi bersama staff istana dan keluarganya. Ada apa dengan laskar pelangi? Sampai banyak orang berebutan dan berdesakkan antre di Bioskop untuk menonton Film Laskar Pelangi. Saya sendiri sudah menonton film Laskar Pelangi tiga kali. Pertama kali aku menontonya di Atrium Senen, Jakarta Pusat, kedua dan ketiganya aku nonton di rumah karena aku membeli DVD-nya. Aku menonton berkali-kali karena adrinalinku terpacu untuk menjadikan Laskar Pelangi menjadi ”pelangi di jiwaku”. Aku merasa ditantang untuk membangkitkan spirit untuk bersyukur dan bersabar dan berjuang. Sabar menghadapi setiap tantangan hidup. Aku kagum dengan Ibu Muslimah yang bernama lengkap N.A. Muslimah Hafsari Hamid binti K.A. Abdul Hamid. Dia adalah Ibunda Guru bagi Laskar Pelangi. Wanita lembut ini adalah pengajar pertama Laskar Pelangi dan merupakan guru yang paling berharga bagi mereka. Aku juga bangga dan terpesona dengan dengan Harfan Efendy Noor bin K.A. Fadillah Zein Noor; yang biasa disapa Pak Harfan. Kepala sekolah dari sekolah Muhammadiyah ini adalah orang yang sangat baik hati dan penyabar meski murid-murid awalnya takut melihatnya. Juga aku bangga dan kagum dengan Seorang bocah mungil, Floriana dengan sapaan Flo; seorang anak tomboi yang berasal dari keluarga kaya. Dia merupakan murid pindahan dari sekolah PN yang kaya dan sekaligus tokoh terakhir yang muncul sebagai bagian dari laskar pelangi.

Naskah Laskar Pelangi
Naskah Laskar Pelangi diadaptasi menjadi sebuah film tahun 2008 dari novel dengan judul yang sama, Laskar Pelangi” karya Andre Hirata. Film Laskar Pelangi diproduksi oleh Miles Films dan Mizan Production, dan digarap oleh sutradara Riri Riza. Skenario adaptasi ditulis oleh Salman Aristo dibantu oleh Riri Riza dan Mira Lesmana. Menurut Andrea Hirata, dengan diadaptasi menjadi sebuah film, pesan-pesan yang terkandung di bukunya diharapkan dapat lebih menyebar ke khalayak lebih luas. Film ini penuh dengan nuansa lokal Pulau Belitong, dari penggunaan dialek Belitung sampai aktor-aktor yang menjadi anggota Laskar Pelangi juga adalah anak-anak asli Belitung.

Spirit Laskar Pelangi
Menoreh pada Spirit Laskar Pelangi. Laskar pelangi mengajak kita untuk terus berjuang. Berjuang untuk untuk hidup, menjalani dan mengatasi kehidupan. Berjuang seperti yang ditunjukkan para anggota Laskar Pelangi. Tidak hanya sekolah yang menghadapi dan harus lulus ujian, tetapi hidup juga harus lolos dari sejumlah ujian. “Menunggu satu orang untuk genap menjadi sepuluh orang agar sekolah bisa terus berjalan, adalah ujian terberat bagi anggota Laskar Pelangi. Satu murid yang datang, yang meski maaf…. agak cacat mental, adalah hikmah sekaligus buah dari ujian yang membutuhkan perjuangan dan semangat.”

Dari teaser Laskar Pelangi yang menggugah spirit hidup kita, kini kita kembali pada topik utama, ”Dari laskar pelangi menuju pelangi jiwa.” Apa dan bagaimana, perjuangan apa dan spirit apa yang kita miliki dan hayai agar teaster laskar Pelangi bisa menjadi pelangi jiwa di hati kita dan pelangi jiwa bagi yang lain di sekitar kita. Dalam hidup kita dihadapkan dengan dua realitas hidup, yakni: kebaikan dan keburukan; kemudahan dan kesulitan persoalan dan jalan keluar dan pelbagai dualisme hidup lainnya.
Dua-duanya adalah ujian, tantangan dan sekaligus peluang bagi kita. Saling bertolak belakang. Dua-duanya sama beratnya. Ada orang yang diuji dengan kebaikan atau kemudahan berupa kekayaan yang melimpah, jabatan yang tinggi dan pengaruh yang luar biasa besar di masyarakat. Sebaliknya, ada pula orang yang diuji dengan kesulitan hidup, kemiskinan, kesengsaraan, tanpa pekerjaan, serta tanpa pengaruh dan kekuasaan sedikit pun di masyarakat. Kunci hidup untuk menjalani dua ujian yang berbeda itu adalah: Perjuangan, syukur dan kesabaran. Sekarang apakah kita mempu menjalaninya?
Hem…….. perlu dicatat dan diingat bahwa, “Orang yang diuji oleh kemudahan berupa kekayaan dan jabatan tinggi kadang sering lupa untuk bersyukur, sering lupa bahwa semua kenikmatan yang telah diterimanya itu berasal dari Allah, adalah berkat kemurahan Tuhan atas perjuangan hidupnya. Orang itu menjadi lupa, tidak amanah, dan tidak toleran terhadap sesamanya yang sedang diuji kesusahan. Sebaliknya orang yang sedang diuji kesulitan atau tertimpah masalah sering lupa untuk bersabar. Yang dilakukan malah menggugat Tuhan dan menyalahkan diri sendiri.
Laskar Pelangi dan Pelangi jiwa
Dari kisah Laskar pelangi, ”aku” tersadar dan disadarkan bahwa hidup itu butuh kesabaran, syukur dan perjuangan. Tengoklah kisah dibalik laskar pelangi. Film yang diangkat dari novel karya Andrea Hirata yang dibintangi oleh: Ikal, Lintang, Sahara, Mahar, A Kiong, Syahdan, Kucai, Borek, Trapani dan Harun; yang bersekolah (SD dan SMP) di sebuah sekolah Muhammadiyah di pulau Belitong yang penuh dengan keterbatasan ini mampu mengisi ”pelangi jiwa” penikmat Laskar Pelangi. Keterbatasan yang ada bukan membuat mereka putus asa, tetapi malah membuat mereka terpacu untuk dapat melakukan sesuatu yang lebih baik. So... jadilah Pelangi bagi segenap jiwa yang Anda temui. Sebagaimana para ”Laskar Pelangi” menjadi ”Pelangi jiwa” bagi Anda dikala menonton Laskar Pelangi!

Rabu, 27 Mei 2009

RI 01 & 02 Dalam Kampanye

RI 01 & 02 Dalam Kampanye
Romald Kahardi
Hingar-bingar politik di negeri kita beberapa bulan terakhir ini mulai menghangat. Para capres dan Cawapres serta tim sukses tengah disibukkan dan larut dalam menyusun strategi, melempar opini ke media (masyarakat) untuk menarik simpati mereka.
Ada yang mengaku unggul di bidang "ini" dan bidang "itu". Tak pelak juga Kampanye "hitam" kadang dibuat untuk membunuh karakter Capres lain. Sindir-sindiran tentag jargon kampanye juga sering terdengar dan kita saksikan di Pelbagai media. Itulah politik, ada kawan, ada lawan, ada yang cepat dan ada yang lambat. hari ini "kita' besok mungkin "mereka" atau sebaliknya hari ini "Mereka" besok mungkin "kita". Itulah politih sush di tebak!
Atas nama rakyat!
Ketiga pasangan capres dan cawapres / pasangan RI 01 dan RI 02 yang kini tampil di TV dan pelbagai media sama-sama menggunakan kata "rakyat" dan mengatasnamakan rakyat dalam propaganda politiknya masing asing. Pertanyaannya, rakyat yang mana? Aku juga rakyat, dia rakyat, mereka rakyat dan kita juga rakyat. Jadi intinya kampanye adalah: ajang untuk merebut dan memenangkan simpati rakyat.
Kita mau pilih yang mana?
SBY Berbudi, JK Wiranto atau Mega Prabowo? Yang jelas, siapapun pemenangnya nanti, kita adalah rakyatnya; Indonesia adalah negaranya; Pancasila adalah dasar negaranya; Garuda Pancasila adalah lambang negaranya; UUD 1945 adalah konstitusinya; Nusantara adalah wilayahnya; Bahasa Indonesia adalah Bahasa negara dan persatuannya; NKRI adalah harga mati dan Merah putih adalah bendera negaranya, bukan Bendera Partai seperti Bendera Partai Demokrat, bendera PDIP, bendera Golkar, bendera Hanura, Bendera Gerindra, bendera PKS, bendera PPP dan bendera PAN.
Perpaduan "muka lama" dan "muka baru"!
Menarik bahwa pasangan calon RI01 dan RI02 kali ini merupakan perpaduan antara muka lama dan muka baru. Muka Lama seperti : SBY, Megawati, JK, dan Wiranto. Muka baru adalah Budyono dan Prabowo. Perpaduan antara muka lama dan muka baru ini menarik untuk dicermati. SBY Berbudi adalah paduan antara muka lama dan muka baru; Pasangan Mega Prabowo adalah paduan antara muka lama dan muka baru; sedangkan pasangan JK wiranto adalah paduan antara muka lama dan muka lama dalam tampilan yang beda. Walaupun demikian, Calon RI01 dan calon RI02 kali ini adalah pentolan politikus, profesional dan bisnisman.
Pasangan Nusantra?
Pasangan JK Wiranto mengklaim diri sebagai pasangan Nusantra, emang yang lain dari Luar Nusantra? Cara pandang dan sudut pandang tentang ketiga pasangan ini jelas sangat berbeda dari tiap-tiap orang tergantung siapa yang mengungkapkanya. Ada dikotomi pemahaman antara Jawa dan Luar Jawa, Sipil dan Militer, Politikus dan Profesional semuanya adalah pasangan yang lahir dari rahim ibu pertiwi. Mereka adalah anak nusantra. Asal boleh beda, {Jawa dan luar jawa) tapi kembali lagi ditegaskan bahwa: kita adalah rakyatnya; Indonesia adalah negaranya; Pancasila adalah dasar negaranya; Garuda Pancasila adalah lambang negaranya; UUD 1945 adalah konstitusinya; Nusantara adalah wilayahnya; Bahasa Indonesia adalah Bahasa negara dan persatuannya; NKRI adalah harga mati dan Merah putih adalah bendera negaranya. Jadi Klaim Nusantara adalah wajar dan diperuntukkan bagi semua.

Kamis, 12 Maret 2009

MENAKAR DAMPAK LINGKUNGAN EKSPLORASI PERTAMBANGAN DI MANGGARAI BARAT

Beberapa bulan belakangan ini, berkembang polemik di masyarakat tentang perlu tidaknya mengeksplorasi / mengeksploitasi tambang di Manggarai Barat. Pihak yang pro pertambangan melihat ini sebagai suatu kesempatan untuk meningkatkan pendapatan asli daerah dan memajukan perekonomian. Akan tetapi, pihak yang kontra melihatnya dari aspek yang lain, yakni dampaknya bagi lingkungan sosial dan lingkungan alam. Disadari atau tidak, kegiatan eksplorasi/eksploitasi tambang Berdampak ganda; membawa dampak positif dan negatif bagi masyarakat. Akan tetapi yang perlu dipikirkan adalah dampak atau efeknya terhadap kehidupan ekosistem alam dan generasi yang akan datang.

Tulisan ini bermaksud untuk memberikan gambaran sejauh mana eksplorasi / eksploitasi tambang itu membawa efek bagi kehidupan sosial dan lingkungan alam Manggarai Barat. Tulisan ini tidak bermaksud untuk menggugat atau menghakimi yang pro pertambangan dan memberi dukungan moril kepada kelompok yang kontra terhadap eksplorasi/eksploitasi tambang di Manggarai Barat. Tulisan ini memandangnya dari sudut pandang pengetahuan penulis dari hasil otak-atik saya melalui dunia maya. Walaupun bahan dasarnya diambil dari dunia maya, namun hasilnya saya rasa perlu untuk dijadikan bahan pertimbangan bagi para pengambil dan penentu kebijakan dan bagi masyarakat manggarai Barat.

Para pelaku bisnis pertambangan, pemerintah, dan para pengamat ekonomi sangat jeli dalam membingkai dan membungkus investasi pertambangan, baik tambang mineral maupun minyak dan gas. Mulai dari bungkus kepentingan devisa, penyediaan lapangan kerja, mempercepat pertumbuhan ekonomi, hingga bungkus mengurangi angka kemiskinan. “Framming” yang begitu sempurna, tapi betulkah industri pertambangan akan membawa kemakmuran bagi rakyat?Ada sebuah olok-olok yang kerap dilontarkan oleh kelompok pro pertambangan ketika menanggapi sikap kritis masyarakat yang menolak hadirnya industri pertambangan di daerahnya, kurang lebih begini, “Jika tak setuju dengan pertambangan, kembali saja ke zaman batu. Juga tak usah lagi menggunakan alat-alat yang menggunakan bahan dasar mineral”. Olok-olok ini mereka lakukan sebagai bunuh diri filsafat, atas ketidakmampuan mereka menjelaskan hubungan antara pertambangan dan kemakmuran rakyat yang sebenarnya tidak pernah berkorelasi positif.

Manggarai Barat tak lama lagi akan memasuki fase rezim industri tambang mineral atau rezim industri keruk. Tanda-tanda akan munculnya rezim industri tambang terutama mangan di Manggarai Barat telah tampak di depan mata. Setidaknya ini yang muncul ke permukaan dan menjadi bahan perbincangan masyarakat manggarai barat akhir-akhir ini. Industri pertambangan merupakan industri yang tidak berkelanjutan karena tergantung pada sumberdaya yang tidak terbarukan. Jika kemudian kelompok pro pertambangan begitu yakin bahwa industri tambang akan membawa kemakmuran. Bagaimana dengan dampak lingkungan yang akan di wariskan industri pertambangan, terutama setelah beroperasi?. Justru akan lebih memiskinkan masyarakat di sekitar areal pertambangan.

Pengelolaan lingkungan hidup dalam operasi pertambangan seharusnya meliputi keseluruhan fase kegiatan pertambangan tersebut, mulai dari fase eksplorasi, fase produksi, hingga pasca penutupan tambang. Belajar dari catatan operasi penutupan pertambangan yang dilakukan oleh PT Barisan Tropical Mining (milik Laverton Gold Australia) di Sumsel, PT Indo Moro Kencana (milik Aurora Gold Australia), PT Newmont Minahasa Raya (milik Newmont Amerika Serikat), PT Kelian Equatorial Mining (milik Rio Tinto Inggris-Australia). Seharusnya Manggarai Barat telah bersiap diri dan banyak belajar dari kasus-kasus pertambangan di wilayah lain di Indonesia.

Fenomena yang terjadi pada industri pertambangan di Indonesia, justru perusahaan tambang tersebut memiliki kekebalan untuk tidak mentaati aturan-aturan lingkungan hidup dan dapat dengan bebas melakukan pencemaran tanpa takut mendapatkan sanksi. Perilaku lainnya adalah praktik pembuangan limbah pertambangan dengan cara-cara primitif, membuang langsung limbah tailing ke sungai, danau, dan laut.

Industri pertambangan pada pasca operasi akan meninggalkan banyak warisan yang memiliki potensi bahaya dalam jangka panjang, antara lain; Lubang tambang (Pit), Air asam tambang (Acid Mine Drainage), dan Tailing.

Pertama, Lubang Tambang. Sebagian besar pertambangan di Indonesia dilakukan dengan cara terbuka. Ketika selesai beroperasi, perusahaan meninggalkan lubang-lubang raksasa di bekas areal pertambangannya. Lubang-lubang itu berpotensi menimbulkan dampak lingkungan jangka panjang, terutama berkaitan dengan kualitas dan kuantitas air. Air lubang tambang mengandung berbagai logam berat yang dapat merembes ke sistem air tanah dan dapat mencemari air tanah sekitar. Potensi bahaya akibat rembesan ke dalam air tanah seringkali tidak terpantau akibat lemahnya sistem pemantauan perusahaan-perusahaan pertambangan tersebut. Di pulau Bangka dan Belitung banyak di jumpai lubang-lubang bekas galian tambang timah (kolong) yang berisi air bersifat asam dan sangat berbahaya.

Kedua, air asam tambang. Air asam tambang mengandung logam-logam berat berpotensi menimbulkan dampak lingkungan dalam jangka panjang. Ketika air asam tambang sudah terbentuk maka akan sangat sulit untuk menghentikannya karena sifat alamiah dari reaksi yang terjadi pada batuan. Sebagai contoh, pertambangan timbal pada era kerajaan Romawi masih memproduksi air asam tambang 2000 tahun setelahnya. Air asam tambang baru terbentuk bertahun-tahun kemudian sehingga perusahaan pertambangan yang tidak melakukan monitoring jangka panjang bisa salah menganggap bahwa batuan limbahnya tidak menimbulkan air asam tambang. Air asam tambang berpotensi mencemari air permukaan dan air tanah. Sekali terkontaminasi terhadap air akan sulit melakukan tindakan penanganannya.

Ketiga, tailing. Tailing dihasilkan dari operasi pertambangan dalam jumlah yang sangat besar. Tailing mengandung logam-logam berat dalam kadar yang cukup mengkhawatirkan, seperti tembaga, timbal atau timah hitam, merkuri, seng, dan arsen. Ketika masuk kedalam tubuh mahluk hidup logam-logam berat tersebut akan terakumulasi di dalam jaringan tubuh dan dapat menimbulkan efek yang membahayakan kesehatan. Celakanya, tidak ada aturan di Indonesia yang mewajibkan perusahaan pertambangan melakukan proses penutupan tambang secara benar dan bertanggungjawab. Kontrak karya pertambangan hanya mewajibkan perusahaan pertambangan melakukan reklamasi, dalam pikiran banyak pelaku industri ini adalah penghijauan atau penanaman pohon semata. Jauh panggang dari api.

Pemerintah Manggarai Barat tak ada salahnya belajar dari kasus-kasus dan potret pertambangan di wilayah lain dalam menghadapi invasi rezim industri keruk yang telah masuk ke Manggarai Barat. Investasi pertambangan tidak harus serta-merta dilihat dari dimensi ekonomis dengan mengabaikan persoalan lingkungan yang bersifat jangka panjang dan laten. Belajar dari banyak kasus hadirnya pertambangan di daerah yang miskin, kemakmuran bagi rakyat hanyalah ilusi, ditambah sebuah warisan jangka panjang bernama pencemaran lingkungan. Pertanyaannya, Akankah eksplorasi tambang di Bumi ”Congka Sae” tetap diLanjutkan? Semuanya ada di tangan pemerintah dan masyarakat Manggarai Barat yang mendiami tanah Manggarai Barat.

Voice of the voiceless

Akhir-akhir ini, teriakan atau rintihan kegelisahan anak negeri, khususnya orang miskin atau orang yang kurang mampu sebagai akibat dari adanya rencana pemerintah untuk menghapus subsidi BBM serta menaikan harga BBM semakin kian keras.

Desakan arus bawah/kaum marginal yang terpinggirkan akibat kebijakan pembangunan yang salah untuk bersuara sudah semakin kuat. Gumaman mereka kini mulai diikuti oleh cendikiawan muda Indonesia yakni kalangan pelajar dan mahasiswa. Tidak heran, Kemarin Hingga hari ini BEM UI se-indonesia mengadakan aksi turun ke jalan untuk menyuarakan suara rakyat, suara kaum lemah, arus bawah yang tidak didengarkan atau pura-pura tidak didengar oleh para wakil rakyat di Parlemen di Tahtah senayan. Sepertinya rakyat kurang percaya lagi dengan wakil rakyat. Karenanya dengan caranya sendiri, parlemen jalanan menyuarakan aspirasi rakyat banyak.Parlemen sebagai corong aspirasi rakyat yang mengawasi dan memberikan masukan kepada pemerintah sepertinya tidak mampu lagi menampung aspirasi rakyat.

Momentum peringatan 100 tahun kebangkitan Nasional rupanya harus menjadi moment untuk merefleksikan perjalanan bangsa Indonesia, khususnya dalam memaknai 63 Tahun Kemerdekaan dan menjadi moment untuk membangun kembali rasa kebangsaan kita sbagai sebuah bangsa yang bermartabat. Seabat kebangkitan nasional yang kita rayakan tahun ini menjadi moment untuk membangun dan mengentaskan benih-benih kemiskinan. Kalau Dulu kita berjuang untuk merdeka dan terlepas dari penjajahan bangsa lain. Kini kita berjuang untuk membebaskan diri dari kemiskinan. Namun Apa sebenarnya yang menjadi factum primum dari kemiskinan di negeri ini?

Kemiskinan masih menjadi momok dan batu sandungan dalam pembangunan di negeri ini. Kemiskinan masih dan terus saja ada sepanjang negara ini masih dikelola secara salah. Salah urus negara menjadi biang prahara munculnya kemiskinan. Karena miskin orang akhirnya turun ke jalan untuk menjadi pengemis, tukang minta-minta. Karena tersingkir oleh pembangunan, banyak orang di kota yang tidak mempunyai rumah tinggal yang tetap, Karena penggusuran, banyak orang menjadi miskin, karena bencana alam yang menimpa warga, rakyat menjadi miskin. Kalau alam sukar untuk diprediksi; akan tetapi kalau miskin karena kebijakan pembangunan yang salah ini harus dilawan. Tidak heran kalau akhir-akhir ini semakin banyak orang turun ke jalan untuk berteriak. Beteriak melawan kebijakan pemerintah, kebijakan pembangunan yang berkedok untuk mensubsidi rakyat.

Kalau kondisi saat ini saja banyak rakyat miskin di kota dan desa yang terlilit kemiskinan, apa lagi kalau BBM naik. Semuanya pasti ikut naik. Apalagi barang-barang kebutuhan pokok. Pasti akan naik. Ekses dari kenaikan BBM itu merambat kemana-mana. Untuk masyarakat miskin kota hal ini akan menjadi ”Bumerang” dan akan menggerogoti hidup mereka. Orang miskin memang tak bisa bersuara,mereka hanya bisa bergumam dalam diam. Mereka buta politik itu dan ini. Mereka tidak tahu soal IMF, tidak kenal inflasi atau APBN. Yang mereka tahu, Presiden mereka sekarang adalah SBY dan wakil Presiden mereka adalah JK. Tentang lebih jauh tentang kebijakan moneter Indonesia , wah......... gelap seperti apa itu, merka sepertinya gak tahu apa-apa; tetapi jangan salah, sebuah pemerintahan dalam sebuah negara bisa tumbang kalau suara dari kaum tak bersuara, ”voice of the voicelless” tidak di dengar oleh pemerintah. Karena Revolusi pasti akan terjadi. Dan Revolusi yang didukung oleh rakyat, apalagi kalangan terpelajar seperti Mahasiswa dan rakyat banyak akan menghasilkan sebuah perubahan. Perubahan bisa kearah yang baik; bisa juga ke arah yang buruk. Karena itu jangan dipandang dan dianggap ”sebelah mata.”

Kembali ke Persoalan BBM, Sebuah pilihan yang sulit bagi Pemerintahan SBY & JK. Alasan untuk menaikan harga BBM hingga kini belum bisa diterima oleh rakyat, apalagi oleh kalangan ekonomi menengah kebawah dan kaum miskin. Kalau saya boleh berpendapat seperti ini: BBM boleh dinaikan kalau dengan tujuan untuk mensubsidi kaum miskin/rakyat miskin; kalau begitu BLT Plus jangan hanya untuk tiga bulan atau beberapa bulan saja, tetapi setiap bulan. Kalau demikian adanya, rakyat pasti tidak protes apalagi harus turun ke Jalan untuk berunjukrasa / berdemo.......... Asyik kan??????

Agamaku agama kasih

Akhir-akhir ini tindakan kekerasan yang berlatarkan agama sebagai benih konflik mulai terkuak lagi di bumi persada. Setidaknya, kasus Ahmadiah yang hingga kini belum menuai titik terang telah menimbulkan gesekan dan kekisruhan di tengah masyarakat, khususnya di kalangan Islam. Namun sebenarnya, apa yang dicari atau apa yang mau dipecahkan dalam persoalan ini?

Yang aku tahu, agama tidak mengajarkan kekerasan, demikianjuga ia tidak mengajarkan pemeluknya untuk saling mencemooh dan melukai satu sama lain. Apalagi agama Islam, Katolik, Hindu, Buddha dan agama Kristen yang diabsahkan keberadaanya di bumi persada, Indonesia. Lalu apa yang membuat orang bertindak brutal kepada sesamanya; padahal kalau ditilik dari sudut dan kaca mata manapun, manusia adalah makhluk beradab yang menghargai dan menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia (HAM), termasuk kebebasan untuk menjalankan agama dan kepercayaannya.

Keberadaan manusia sebagai makhluk beragama dan makhluk beradab sudah dibuktikan sebagai penegak moral manusia dari masa ke masa. Seandainya agama itu rekaan dan rekayasa manusia, jelas keberadaan agama-agama itu di tengah kegermelapan dunia modern sudah hancur dan punah; namun kenyataannya agama tumbuh dan masih tetap diminati makhluk ciptaan yang bertitel ”Manusia” di Pelanet bumi ini.

Kasih adalah segalanya dalam agama, apalagi dalam agama Katolik ataupun protestan yang mengidolakan Yesus Kristus sebagai tokoh sentralnya. Agama Islam sebagai agama samawi menempatkan Nabi Muhammad saw sebagai tokoh sentral mengajarkan kasih walau dalam bahasa dan cara yang berbeda tidak menginginkan kekerasan; dalam hal Jihad pun, kekerasan tidak boleh menjadi pilihan utama. Jihad yang sesungguhnya adalah jihad melawan diri sendiri untuk menguasai dan mengendalikan diri dan bertindak adil dengan yang lain. Agama Hindu mengajarkan aksi tanpa kekerasan dan menghormati ciptaan yang lain. ”Wei wu wei” Aksi tanpa kekerasan sebagaimana diteladani Gandhi, tokoh fenomenal dari negeri India. Agama Buddha yang menempatkan sang Budha Gautama sebagai tokoh sentralnya juga mengajarkan Kasih dan penguasan diri. Singkatnya, tiada satu agama dan ajaranya tidak mengajarkan Kasih atau membenarkan tindakan anarkis.

Lalu, apa yang membuat orang lupa mengejawantahkan ajaran agama yang mulia, yaitu ”kasih” dengan membiarkan ”kekerasan” muncul? Kembali kepada fitra manusia. Manusia tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki dan inilah ”dosa” manusia yang membedakannya dengan malaikat sebagaimana di ikhtiarkan dalam agama Islam.

Ada beberapa alasan mengapa agama menjadi factum primum kekerasan: pertama, adanya pemahaman yang sempit tentang agama sendiri atau keyakinan agama sendiri. Di sini pemeluk agama meyakini secara ”berlebihan” bahwa ajaran agamanyalah yang paling benar dan memandang rendah keyakinan agama dari pemeluk agama yang lain dengan mengkafirkan yang lain. Pandangan ini memunculkan beberapa pandangan ekstrim, antara lain: Fundamentalisme agama dan garis keras dalam agama. Di sini, militansi dan apologia teoretis terhadap keyakinan agamanya menjadi yang paling benar. Dengan demikian, penistaan terhadap ”kebenaran” ini menimbulkan luka di hati pemeluknya. Luka akibat ”rasa” penistaan inilah yang melahirkan ”niat” untuk mebela agama secara militan dan ini akan memunculan tindakan pengrusakan atau anarkisme terhadap kelompok lain.

Selain Alasan di atas, hal yang menjadi penyebab dari lahirnya tindakan kekerasan dalam diri pemeluk agama adalah: mengerti salah tentang ajaran agama sendiri. Di sini kebenaran ajaran agama dipahami secara keliru dan kurang mendalam atau dangkal. Pemahaman ini melahirkan sikap inklusivisme agama. Tidak mau bergaul dengan pemeluk agama yang lain karena menganggap yang lain sebagai agama yang tidak benar dan menganggap diri paling benar.

Inklusivisme agama seperti ini memandekan dan mengkerdilkan dialog. Dialog menjadi buntu dan akibatnya, tiap pemeluk agama membuat tembok untuk membentengi diri dari pengaruh dan pembauran dengan yang lain. Di sinilah sisi negatif dari inklusifisme agama itu. Orang akan curiga ada apa di balik ”tembok” inklusifisme itu? Kecurigaan melahirkan konflik dan anarkisme menjadi anak pinaknya.

Kalau demikian adanya, sinyalemen agama sebagai penebar ”kasih” menjadi selogan tanpa makna karena agama akan melahirkan Anarkisme dalam diri pemeluknya; padahal agama, apapun namanya pasti mengajarkan ”kasih” dan bukan anarkisme”.

Kembali kepada persoalan Ahmadyah yang kini mencuat ke ranah publik. Kini muncul pertanyaan, siapa yang paling bertanggungjawab terhadap pelbagai tindakan anarkis terhadap pengikut Mirza Ghulam Ahmad dari negeri India itu? Kini yang terjadi saling tuduh dan menuduh. Yang satu (Islam di Indonesia) mengklaim diri sebagai yang benar dan mengkafirkan Ahmadyah sehingga harus diluruskan. Sementara itu pengikut Ahmadyah kini dalam kebingungan, ”Ahmadiyah sudah ada di bumi persada ini puluhan tahun dan mereka mengakui diri sebagai ”Islam” dan bukan yang lain. Ini soal ”ormas” sama seperti NU, Muhamadyah dan yang lainya.

Fatwa MUI tentang keberadaan Ahmadyah sebagai yang ”sesat” menjadi perhatian kini. Namun fatwah tetap fatwa, Ahmadyah tetap menjalankan aktivitas keberagamaannya di tengah tekanan dari berbagai kalangan Islam untuk membubarkan Ahmadyah sebagai tindak lanjut dari fatwa MUI itu. Siapa yang bertanggungjawab terhadap tindakan anarkis sebagian kalangan yang mengatasnamakan Islam dalam tindakannya?

Patut direnungkan dan diselami bahwa kebebasan beragama memang dijamin penuh oleh konstitusi. Dalam UUD 1945 pasal 28 E ayat (1) disebutkan bahwa setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya. (2) Mereka juga berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan dan menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya.

Lalu dalam pasal 29 ayat (2), negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu. Jaminan kebebasan ini bahkan dikukuhkan dengan UU No.39 Tahun 1999 tentang Hak-hak Asasi Manusia (HAM).

Selanjutnya dalam UU No 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan Konvenan Internasional Terhadap Hak-Hak Sipil dan Politik (pasal 18 ayat 1) juga disebutkan bahwa setiap orang berhak atas kebebasan berpikir, berkeyakinan, dan beragama. Bahkan tidak seorang pun boleh dipaksa, sehingga mengganggu kebebasannya untuk menganut atau menerima suatu agama atau kepercayaannya sesuai dengan pilihannya.

Hak dan kebebasan Jemaat Ahmadyah Indonesia dalam memeluk keyakinan memang harus dihormati. Tetapi, di negara mana pun di muka bumi ini, tidak ada satu kebebasan pun yang bersifat absolut. Jadi atas nama kebebasan itu, tidak serta merta siapa pun juga boleh menjungkir-balikkan ajaran-ajaran baku agama.

Selasa, 10 Maret 2009

APA KABAR MANGGARAI BARAT

Manggarai Barat. Sebuah nama yang menyimpan sejuta makna buatku. Setidaknya, Manggarai Barat yang sebagai salah satu Kabupaten yang terdapat di Ujung Barat Pulau bunga itu kini menjadi incaran banyak orang. Pasalnya di sana ada "emas HIdup" binatang purba, Komodo yang kini tersohor di seantero jagat ini. Selain itu panorama alam tanah Mabar memikat hati dan menarim minat para infestor untuk menanamkan modal dan berinfestasi di sana. Namun, apa yang terjadi kini? Entahkah panorama dan keindahan panorama alam di bumi Mabar telah tertata dengan baik dan terurus dengan bijak?
Apa kabar Mabar”? Sebuah bentuk sapaan dari kejauhan. Tapi, berisi pesan yang menghentak situasi terdekat. Pasalnya, akhir-akhir ini, Mabar terkelepot tragis oleh pelbagai masalah pembangunan tanpa “happy ending”. Setiap tahun tergelayut perkara sama. Kualitas pembangunan bermutu rendah tapi mengucur uang banyak. Hasilnya belum terlalu menggembirakan!

Mulai dari masalah pengerjaan jalan raya, bangunan publik: ruko milik pemda, sekolah, rumah sakit sampai pada program pemberdayaan warga (singkong) berkualitas buruk dan asal-asalan. Ini masalah laten, unfinished bussines. Mutu rendah dan “kejar target proyek”. Bahkan sengaja “dibikin” mutu rendah supaya proyek berjalan terus. Extra income pun tergelontor terus.

Proyek pembangunan itu, menelan miliaran bahkan triliunan rupiah uang rakyat. Hanya, semuanya berakhir dengan cerita tragis. Rakyat tidak menikmatinya. Kalaupun dapat dinikmati, untuk sebentar saja, alias pelengkap sandiwara. Kita memang bukan berharap kualitas pembangunan berabad-abad. Karena, kualitas pembangunan seperti itu, hanya terjadi dalam kisah dongeng, film dan legenda.

Proyek pembangunan instan (serba asal-asalan) itu menjebaki kita sendiri dalam bisnis “gali lubang tutup lubang”. Sengaja bikin lobang, lalu dicari solusi tutup lubang. Terkesan proyek berlangsung meriah setiap tahun. Padahal, hasil pembangunan itu seperti hiburan gratis, senang sekejap dan hilang pula sekejap.

Padahal, kalau kita meletakan prinsip kualitas dari sekecil apapun jenis pembangunan daripada kuantitas maka kita tidak bakal menghamburkan uang untuk masalah yang sama. Katakan, soal pembangunan jalan raya, bangunan sekolah, rumah sakit, irigasi, dan lain-lain. Hari ini, jalan raya dibikin tuntas, maka selang beberapa bulan jalan yang sama rusak. Anggaran kembali dirancang.

Inilah mental pembangunan “kejar target-proyek” tapi mutu rendah. Siapa yang untung? Pebisnis dan “coboi gelapnya” yang begitu licik memanfaatkan uang rakyat atas nama proyek pembangunan sebagai ladang baru meraup untung. Setiap tahun rakyat dikibuli dan “dicongeh” oleh proyek instan seperti ini.

Masihkah kita punya asa meletakan kembali mutu pembangunan Mabar yang berbuntut masalah belakangan ini? Kira-kira apa dan bagaimana model pembangunan Mabar ke depan, yang bisa menjawabi kebutuhan bersama?

Membangun Mabar dengan mengandalkan kemampuan sendiri (PAD) pastilah tidak mungkin. Ini tidak mungkin karena realitas penduduk yang miskin. Akan tetapi membangun Mabar dengan memberdayakan potensi masyarakatnya pasti mungkin. Yang penting pemimpinnya jeli dan kreatif dalam mengelola human capital dan natural resouces yang ada.

Banyak orang berperspektif bahwa yang menjadi modal dan sekaligus entry point pembangunan Mabar ke depan adalah pembangunan dalam sektor pariwisata. Itu benar tapi bukan prioritas utama. Ini konsep pembangunan yang kandas, yang terpresepsi dan terusung lama oleh pemerintah lokal selama ini.

Drs. Petrus Salamin, MsocSc. dosen sekaligus pakar ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Katolik Indonesia Atmajaya Jakarta, dalam pertemuan lonto kilo (diskusi kekeluargaan) Forum Komunitas Komodo baru-baru ini di Jakarta menggagas tiga kunci pembangunan Mabar.

Pertama, pembangunan ekonomi kita mesti berprioritas pada sektor pertanian. Karena, dilihat dari sisi struktur ekonomi, sebagian besar penduduknya hidup berbasis pada pertanian (berladang, berternak, bersawah dan berkebun) maka tidaklah bombastis kalau sektor pertanian harus menjadi target dalam mewujudkan harapan akan perubahan dan kemajuan pembangunan Mabar.

Sebagaimana diketahui bahwa barometer keberhasilan pembangunan suatu daerah adalah sejauh mana tingkat kemakmuran rakyat ditunjukkan oleh kemampuan daya beli masyarakat. Pembangunan yang berbasis pertanian sebenarnya sudah teruji ampuh dalam meningkatkan kemajuan suatu bangsa.

Contohnya adalah Inggris, Austria, Cina dan negara-negara Eropa lainya. Revolusi pertanian memberikan kemajuan bagi kemakmuran bangsa mereka. Paling kurang, kebutuhan perut terpenuhi. Strategi pembangunan ini bisa diterapkan di Mabar. Bukan pariwisata, seperti yang dipresepsikan oleh kebanyakan orang selama ini.

Kedua, pembangunan infrastruktur berkualitas. Infrastruktur ini menjadi penting selain pertanian; karena bagaimanapun poros kemajuan juga terukur dari seberapa arus barang dan sejauh mana infrastruktur menopang dan dekat dengan masyarakat. Akses ekonomi menjadi hal yang urgen untuk diperhatikan.

Pembangunan infrastruktur ini paling tidak harus menunjang sektor pertanian sebagai basis pembangunan. Gusra-gusru kegelisahan kualitas dan program pembangunan Mabar dalam beberapa tahun terakhir ini, seperti pembangunan jalan raya dan ruko yang ambruk serta proyek Ubi Aldira yang menghabiskan miliaran uang rakyat itu, harap tidak terulang lagi di masa yang akan datang.

Ini harus menjadi “value lesson” untuk pembangunan ke depan. Karena pemerintahan yang berhasil adalah pemerintahan yang mampu memberikan pelayanan yang “prima” bagi warganya. Bukan asal-asalan alias setengah hati.

Ketiga, mendesain pendidikan ketrampilan yang dapat meningkatkan produktivitas ekonomi. Pendidikan adalah ibu dari kemajuan. Pola pikir masyarakat dan cara pandang masyarakat tentang pertanian atau melaut misalnya akan berubah kalau masyarakat tahu bagaimana bertani dan melaut dengan tidak bergantung cara konventional dan pada alam.

Hingga kini, petani dan nelayan di Mabar masih bergantung pada kemurahan alam dalam bertani. Cara pandang tentang pendidikan juga harus berubah. Memang susah untuk menghilangkan image masyarakat tentang pentingnya sekolah dan mengenyam pendidikan. Apalagi, biaya pendidikan sekarang mahal.

Pendidikan menjadi mahal karena ekonomi masyarakat tidak memadai atau dengan kata lain orang sulit melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi karena “miskin”. Tapi apa benar masyarakat kita itu benar-benar miskin? Apa kita miskin karena bodoh, atau sebaliknya kita bodoh karena miskin? Sebuah pertanyaan yang patut direnungkan.

Harapan masyarakat akan kemakmuran mesti ditunjang oleh pembangunan sektor pendidikan. Maka, pendidikan kita harus berorientasi pada keterampilan. Keterampilan sebagai sebuah pendekatan pendidikan ala “misi” misionaris SVD Belanda dulu. Oleh karena itu, mungkin kita perlu digiatkan lagi sekolah keterampilan seperti pertukangan, menjahit dan menenun serta melaut.

Untuk menunjang ini, kiranya pemerintah atau siapapun yang peduli akan pendidikan di Mabar ke depan harus lebih banyak membuka sekolah kejuruan yang bersinergi dengan kondisi demografis (modal) Mabar. Sekolah kejuruan dalam bidang pertanian dan kelautan serta kerajinan tangan mesti dibangun sekarang. Sehingga, output pendidikan dapat menyerap tenaga kerja sesuai dengan kebutuhan lokal dan lebih bagus lagi dapat membuka lapangan kerja.

Jadi, menurut Petrus Salamin, alumni Birmingham University Inggris (1991), sekaligus putra asli Mabar bahwa ketiga poin di atas merupakan kunci peletakan dasar pembangunan Mabar saat ini. Hanya, apakah pemimpin sekarang memiliki strategi untuk itu? Sebab, di tangan pemimpinlah, kebijakan itu bermula. Kalau pemimpinya rakus dan ingat diri, maka mimpi “Mabar makmur” akan menjadi sia-sia. Yah...... bagai pungguk merindukan bulan!